Ini Alasan Pentingnya ODHA Jangan Putus Konsumsi Obat ARV

JawaPos.com – Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) masih dibayangi dengan stigma diskriminasi di masyarakat. ODHA juga seolah divonis pasti meninggal dunia karena penyakit HIV AIDS belum ada obatnya. Padahal ada obat Anti Retro Viral (ARV) yang wajib dikonsumsi ODHA setiap hari, jangan sampai putus. Namun obat tersebut seringkali tak diminum karena banyak ODHA yang pesimis atau acuh tak acuh dengan penyakitnya.

Angka cakupan pengobatan HIV saat ini masih rendah. Selain itu akan berbahaya jika seseorang dengan HIV tidak mengkonsumsi ARV. Ada juga penderita HIV yang enggan mengonsumsi ARV karena disebabkan tidak diterimanya ODHA di kalangan masyarakat. Masih banyak pasien merahasiakan status HIV nya dari keluarga dan lingkungan terdekatnya. 

Pakar Kesehatan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Agung Waluyo menjelaskan ARV wajib diminum ODHA setiap hari. ARV atau anti retro viral berfungsi menghambat pertumbuhan sel virus HIV di dalam tubuh ODHA. Jika ARV diminum secara rutin, maka pertumbuhan sel virus sangat rendah atau bahkan tidak terjadi atau tak terdeteksi lagi. Sehingga kualitas hidup ODHA menjadi baik. 

“Dan yang paling penting, risiko penularan HIV dari ODHA tersebut ke orang lain menjadi sangat rendah,” kata Agung dalam Workshop Kepatuhan Warga Binaan (Lapas) dengan HIV Positif dalam Pengobatan ARV bersama Perawat dan Dokter baru-baru ini.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan peran masyarakat serta pemerintah dalam penurunan stigma dan penolakan terhadap ODHA, sehingga mereka dapat diterima di masyarakat dan dapat hidup damai dengan penyakitnya. Banyak ODHA masih dikucilkan di masyarakat. 

“Satu hal yang sangat penting yang juga harus dilakukan pemerintah dan pihak terkait untuk mengedukasi masyarakat agar menghindari perilaku berisiko tertular HIV seperti penggunaan narkotika dan prilaku seks berisiko,” tegas pria yang juga fokus di bidang Keperawatan Medikal Bedah itu.

Salah satu sasaran meningkatkan edukasi dan kedisiplinan dalam meminum ARV setiap hari adalah para warga binaan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas). Tentunya risiko penularan di dalam Lapas yang tinggi dengan tantangan yang dihadapi akan semakin sulit. Sebab para warga binaan yang terpapar HIV AIDS biasanya memiliki latar belakang pengguna narkotika jenis suntik serta penyuka sesama jenis atau Lelaki Suka Lelaki (LSL).

“Maka tujuan workshop ini ajak dokter dan perawat di klinik di Lapas Salemba dan Cipinang agar mengetahui pengguna narkotika pasien HIV agar mau disiplin meminum ARV. Itu penting sekali,” tutur Agung.

(ika/JPC)