Saat Diare, Anak Kehilangan 2 Zat Penting Yang Bisa Mengancam Nyawa

JawaPos.com – Diare masih menjadi ancaman bagi anak-anak. Di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah virus dan sanitasi yang buruk. Diare bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Sebab kondisi seseorang yang diare akan membuat seseorang dehidrasi dan kehilangan banyak cairan.

Dalam diskusi bersama Nutrition International (NI), Selasa (18/9), Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Dr. dr. ariani Dewi Widodo Sp.A(K) menjelaskan data bahwa diare penyebab kematian nomor 2 terbanyak untuk balita. Sebanyak 15 persen pneumonia dan sebanyak 9 persen kematian adalah karena diare.

“Pneumonia dan diare ini saling susul. Sekarang diare di nomor dua. Karena Indonesia negara tropis, maka angka kejadian diare dan kematian akibat diare cukup banyak. Yaitu antara 1000-5000 kematian,” jelas dokter cantik itu.

Saat anak diare, mereka akan kehilangan dua zat penting dari dalam tubuhnya. Hal itu bisa berbahaya karena membuat tubuh dehidrasi.

“Kehilangan cairan atau dehidrasi. Yang keluar bukan cairan biasa,” ujarnya.

Elektrolit

Cairan yang keluar adalah cairan bersama elektrolit. Tak bisa diganti hanya dengan air putih biasa. Sehingga harus diganti dengan cairan elektrolit yang biasa disebut oralit.

“Oralit efektif atasi dehidrasi dan menurunkan mortalitas. Tapi tak mengurangi lama dan beratnya diare. Diperlukan terapi lain untuk mengurangi lama, beratnya, dan berulangnya diare,” kata dr. Ariani.

Zinc

Pada saat diare, anak juga kehilangan zinc dan mengalami kerusakan usus. Fili usus jonjot usus yangs semula normal akan rusak saat diare. Zinc adalah komponen bagi lebih dari 300 enzim. Penting bagi tubuh kita.

“Sehingga zinc akan ikut hilang atau usus akan rusak. Maka akan lama pulihnya. Makanya dokter akan memberikan pengganti zinc saat anak diare,” jelasnya.

Peran zinc pada usus adalah membantu pembersihan kuman oleh sistem imun. Mempertahankan keutuhan saluran ion dan membran sel. Memperbaiki penyerapan air dan elektrolit. Regenerasi dan pemulihan fungsi sel usus. Serta meningkatjan kadar enzim di puncak sel usus.

Hal senada disampaikan Subdit Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Sedya Dwisangka. Sebanyak 54 persen penyebab diare adalah virus.

“Maka harus tepat mengintervensi diare. Dampak siklus pendek hanya buang air mencret sembuh selesai. Sebetulnya tak seperti itu, sebab saat diare maka anak akan kekurangan zat mikronutrien,” papar Sedya.

Banyaknya mikronutrien yang keluar salah satunya adalah zinc. Sehingga tingginya kasus diare akan berdampak panjang mempengaruhi tinggi badan anak, kebugaran dan kecerdasan.

“Makanya banyak balita yang ketinggalan tinggi badannya hingga usia 7 tahun salah satunya karena diare. Atau kebugarannya dan IQ atau kecerdasannya akan terpengaruh,” tandas Sedya. 

(ika/JPC)