Jembatani Perbedaan, KBI Ajarkan Pentingnya Medsos untuk Persatuan

JawaPos.com – Dunia maya dan media sosial (medsos) memiliki dua mata pisau. Di satu sisi, ia berpotensi mencerahkan publik. Namun di sisi lain, ia juga sangat berpeluang menciptakan konflik dan perpecahan antar sesama.

Itu diungkapkan oleh Sholehuddin A. Aziz yang menjadi salah satu pemateri dalam Pelatihan Juru Bicara Pancasila yang diselenggarakan oleh Komunitas Bela Indonesia (KBI) di   Hotel Neo, Pontianak, Kalimantan Barat.

Acara ini juga digelar atas kerja sama dengan SAKA (Suar Asa Khatulistiwa). Pesertanya  perwakilan dari tiga etnis berbeda yang memang ada di Kalimantan Barat ini yaitu Tiongkok, Dayak, dan Melayu. Begitu pula dengan perwakilan agama dari Islam, Katolik, Kristen, dan Buddha.

“Pelatihan ini mengacu pada buku panduan yang telah dipersiapkan, yakni buku berjudul Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia, yang ditulis oleh Denny JA dan Tim,” ujar Aziz sebagaimana dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com

Pelatihan ini juga diorientasikan untuk membangun komunitas yang melakukan kampanye pentingnya penguatan ideologi bangsa, yakni Pancasila.

Keterlibatan kaum muda lintas agama, ras dan etnis dipercaya bisa menjembatani sekaligus mempertemukan anak-anak muda sebagai generasi milenial yang akrab dengan media sosial yang pluralis.

Dalam pelatihan ini, peserta dibekali dengan kemampuan penulisan, berdebat dan manajemen media sosial agar bisa menggaungkan keberagaman di media sosial.

“Tuhan memberi kesengajaan untuk menciptakan kita berbeda-beda. Karena itu harus dihadapi dengan lapang dada,” ujar Aziz.

Peserta nampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggrakan selama empat hari ini. Bagi mereka, ini adalah forum yang sangat bermanfaat untuk mempertemukan anak-anak muda lintas agama yang sama-sama memiliki kepedulian untuk merawat Indonesia yang damai dan beragam.

Dalan pelatihan itu juga terungkap, salah satu dampak positif dari media sosial juga dirasakan oleh Putri Novita Sari, yang menjadi peserta Pelatihan Juru Bicara Pancasila.

Ia bercerita tentang pengalaman persahabatannya yang manis dengan seorang temannya yang beda agama. Putri bahkan lebih merasakan ketulusan persahabatan dari teman dunia mayanya itu.

“Kami waktu itu kenalan di internet. Makin lama makin dekat lalu tahu bahwa kami tengah sama-sama menderita sakit. Kami pun bergantian saling menguatkan satu sama lain hingga akhirnya sembuh,” ujarnya.

(aim/JPC)